Manusia itu Tidak Bebas
Tuesday, November 6th, 2007Jadi manusia kok pengen bisa bebas?!. Ya iya lah, pokoknya gue pengen bebas, seperti burung di angkasa… bla bla bla. Di usia remaja dan usia melepas remaja menuju ke kedewasaan, keinginan bebas hampir selalu ada dalam pikiran dan keinginan manusia, keinginan bebas yang sebebas-bebasnya.
Padahal di saat manusia merasa bebas, menemukan kebebasan yang diinginkan. Dia telah masuk dalam sebuah aturan. Dia telah masuk dalam sebuah ruang yang membuatnya tidak bisa melakukan banyak hal.
First
Keinginan bebasku dulu adalah di saat sebuah idealisme cukup kuat pada diriku. Idealisme dan prinsip keagamaan yang kupegang teguh. Cukup lama aku bergelut dengan khazanah keislaman (4 tahun kurang). Qiyamullail gak perlu disuruh, baca dan menafsirkan al-Quran tiap hari, selalu menyerukan kebaikan kepada teman dan berlomba-lomba beramal shaleh, shalat sunat rawatib gak pernah lewat (apalagi shalat wajib), membiasakan puasa senin kamis walaupun tidak tiap minggu.
Tapi entah mengapa, sikap dan pikiranku saat itu kurasa kurang sreg di hati, serasa ada yang kurang, aku ingin mencari apa gerangan sesuatu yang kurang itu. Sampai aku menemukan sebuah wacana yang membuatku ingin menjadi manusia bebas. Sampai juga pada apa yang ku ingin (red: bebas).
Aku enjoy, senang dan bangga dengan wacana, pemahaman, dan idealisme baruku itu. Lumayan lama juga (5 tahun). Keinginan dan hasrat hati dan pikiranku terpenuhi sudah. Apa yang tidak kutemukan sebelumnya kudapatkan sekarang.
Second
Lagi-lagi ada yang kurang/tidak sreg di hati. Padahal pemahaman dan konsep kebebasan itu bisa memenuhi hasrat pikiran dan hati ini. Yah, memang apa yang kutangkap tentang kebebasan lebih banyak pada hal-hal yang negatif, aku berubah 180 derajat. Kusadari itu.
Sikap dan prilaku hedonis dan progressif yang pemberontak. Dua sikap ini jika tidak di-kontrol dan di-manage dengan baik dan benar, akan menumbuhkan sikap dan prilaku yang negatif dan merusak.
Third
Pemahaman dan kesadaran sedikit demi sedikit muncul, bahwa selama ini aku telah salah. Namun aku masih belum mampu untuk berubah (kembali ke jalan-Nya). Bayang-bayang dan tuntutan untuk menyelesaikan kuliah, ini membuatku berat sekali untuk hijrah.
Rasanya berat sekali untuk menyelesaikan kuliah (mungkin karena udah kadaluarsa ya… terlalu lama menyandang predikat mahasiswa). Tuntutan dari orang tua harus selesai kuliah, dan memang ini merupakan apa yang seharusnya dan menjadi kewajibanku. Tapi di sisi lain tindakan untuk menyelesaikan kuliah kurang bahkan tidak kulakuan, selalu malas untuk menyelesaikan kuliah.
Ayahku selalu bilang: “Cepat selesaikan kuliah. Kalau udah selesai kuliah, mau ngapain aja enak dan bebas”. Memang benar, setiap niat, kegiatan dan pekerjaan di luar perkuliahan serasa tidak bebas. Bagaikan kambing yang ditambatkan di pohon, tidak bisa bergerak lebih dari panjang tali ikatnya.
Final Thoughts
Ternyata kebebasan adalah kematangan visi, misi, pemahaman, kesadaran dan kemampuan. Sehingga setiap keinginan, sikap, tingkah laku, perbuatan dan pengambilan keputusan akan muncul dari prinsip dan landasan yang matang dan jelas, muncul dari pribadi yang memiliki kepribadian. ![]()
Popularity: 18% [?]

Subscribe









